APA HUKUM PERKATAAN FULAN SYAHID ?

Apa Hukum Perkataan Fulan Syahid ?
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=392

APA HUKUM PERKATAAN FULAN SYAHID ?

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : "Apa hukum perkataan,
'fulan Syahid ?'.


Jawaban.
Jawaban atas hal itu adalah bahwa seseorang dikatakan syahid itu dengan dua sisi yaitu :

Pertama.
Hendaknya terikat dengan suatu sifat, seperti : Dikatakan bahwa setiap orang yang dibunuh fisabillah adalah syahid, orang yang dibunuh karena membela hartanya adalah syahid, orang yang mati karena penyakit thaun adalah syahid dan yang semacamnya. Ini adalah boleh sebagai mana yang terdapat dalam nash, dan karena kamu menyaksikan dengan apa yang dikhabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Yang kami maksud boleh adalah tidak dilarang. Jika menyaksikan hal itu, maka wajiblah membenarkan khabar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kedua.
Menentukan syahid bagi seseorang, seperti kamu mengatakan kepada seseorang, dengan menta'yin bahwa dia syahid. Ini tidak boleh kecuali yang disaksikan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atau umat sepakat atas kesyahidannya. Al-Bukhari dalam menerangkan hal ini ia berkata : Bab. Tidak Boleh Mengatakan Si Fulan Syahid. Ia berkata dalam Al-Fath Juz 6 halaman. 90, yaitu tidak memvonis syahid kecuali ada wahyu. Seakan dia mengisyaratkan hadits Umar, bahwa beliau berkhutbah. "Dalam peperangan, kalian mengatakan bahwa si fulan syahid, dan si fulan telah mati syahid. Mudah-mudahan perjalanannya tenang. Ketahuilah, janganlah kalian berkata demikian, akan tetapi katakanlah sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : Barangsiapa mati di jalan Allah atau terbunuh maka ia syahid". Ini adalah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Sa'id bin Manshur dan lainnya dari jalur Muhammad bin Sirrin dan Abi Al-A'jafa' dari Umar.

Karena persaksian terhadap suatu hal yang tidak bisa kecuali dengan ilmu, sedang syarat orang menjadi mati syahid adalah karena ia berperang untuk meninggikan kalimat Allah yang tinggi. Ini adalah niat batin yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda sebagai isyarat akan hal itu.

مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِهِ ...*


"Artinya : Perumpamaan seorang mujahid di jalan Allah, dan Allah lebih tahu siapa yang berjihad di jalan-Nya...." [Bukhari : 2787]

Dan sabda beliau.

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُكْلَمُ أَحَدٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِهِ إِلَّا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ وَالرِّيحُ رِيحُ الْمِسْكِ *


"Artinya : Demi Dzat diriku berada ditangan-Nya tidaklah seseorang terluka di jalan Allah kecuali datang dihari kiamat sedang lukanya mengalir darah, warnanya warna darah dan baunya bau Misk" [Hadits Riwayat Bukhari : 2803]

Akan tetapi orang yang secara dhahirnya baik, maka kami berharap dia syahid. Kami tidak bersaksi atas syahidnya dia dan juga tidak berburuk sangka kepadanya. Raja' (berharap) itu satu posisi di antara dua posisi (bersaksi dan buruk sangka), akan tetapi kita memperlakukannya di dunia dengan hukum-hukum syahid, jika ia terbunuh dalam jihad fi sabilillah. Ia dikubur dengan darah di bajunya tanpa menshalatinya. Dan untuk syuhada' yang lain, dimandikan, dikafani dan dishalati.

Karena, kalau kita bersaksi atas orang tertentu bahwa ia mati syahid
keonsekwensinya adalah kita bersaksi bahwa ia masuk surga. Mereka tidak
bersaksi atas seseorang dengan surga kecuali dengan sifat atau seseorang yang disaksikan oleh Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan sebagian yang lain berpendapat bahwa boleh kita bersaksi atas syahidnya seseorang yang umat sepakat memujinya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah termasuk yang berpendapat seperti ini.

Dengan ini, maka menjadi jelas bahwa kita tidak boleh bersaksi atas orang tertentu bahwa ia mati syahid kecuali dengan nash atau kesepakatan. Akan tetapi bila dhahirnya baik maka kita berharap demikian sebagaimana keterangan diatas, dan cukuplah nasihat tentang ini, sedangkan ilmunya ada di sisi Sang Pencipta.

[Disalin dari buku Majmu' Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Bab Aqidah, hal. 208-210 Pustaka Arafah]

»»  Artikel Selengkapnya...

Larangan Berfikir tentang Dzat Allah

Diambil dari mailing list assunnah@yahogroups.com

Message: 1
Date: Thu, 16 Jun 2005 16:28:12 +0700
From: "Sigit, Iman"
Subject: [ENSIKLOPEDIA LARANGAN] Larangan Berfikir tentang Dzat Allah

Larangan Berfikir tentang Dzat Allah

1. DALIL AL QUR'AN

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

" Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau
dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit
dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan
ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa
neraka ".(Q.S. Ali Imran : 190-191)

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah
bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan
bagi orang-orang yang tidak beriman". (Q.S. Yunus : 101)

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara
keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang
kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk
neraka. (Q.S. Shaad : 27)

2. DALIL AS SUNNAH

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: " Berfikirlah
tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-sekali engkau berfikir
tentang Dzat Allah " (Hadits hasan, Silsilah al Ahaadiits ash Shahiihah)

Diriwayatkan dari Fudhalah bin Ubaid radhiyallaahu 'anhu, dari
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda : " Tiga
jenis orang yang tidak perlu engkau tanyakan lagi nasibnya; Orang yang
memisahkan diri dari jama'ah, ia mendurhakai imam dan mati dalam keadaan
durhaka. Budak wanita atau pria yang melarikan diri dari tuannya, lalu
mati. Dan seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya dengan memberikan
perbekalan yang cukup, lalu sepeninggal suaminya ia bersolek (untuk
lelaki lain) ".
" Tiga jenis orang yang tidak perlu engkau tanyakan lagi nasibnya; Orang
yang merampas selendang Allah, sesungguhnya selendang Allah adalah
kesombongan-Nya, sarung-Nya adalah kemuliaan. Orang yang ragu tentang
Allah. Dan orang yang berputus asa terhadap rahmat Allah " (Hadits
shahih, diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam al Adabul Mufrad)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, dari Rasulullah
shallallaahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: " Sesungguhnya syaitan
mendatangi salah seorang dari kamu, lalu berkata: 'Siapakah yang telah
menciptakan ini ? Siapakah yang telah menciptakan itu ? ' Hingga syaitan
berkata kepadanya: 'Siapakah yang menciptakan Rabbmu ?'. Jika sudah
sampai demikian, maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dengan
mengucapkan isti'adzah dan berhenti " (HR Al Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu, ia berkata,
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: " Allah subhanahu wa
ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya umatmu akan terus-menerus bertanya apa
ini, apa itu ? " Hingga mereka bertanya: 'Allah telah menciptakan ini
dan itu lalu siapakah yang menciptakan Allah ? " (HR Muslim)

Dalam riwayat lain ditambahkan: " Jika demikian halnya, mereka akan
tersesat "

3. FAWAID / KANDUNGAN BAB

a. Allah subhanahu wa ta'ala telah menganjurkan dalam Kitab-Nya agar
berfikir dan bertadabbur. Anjuran ini ada dua macam: Pertama, anjuran
mentadabburi ayat-ayat Al Qur'an dan ayat-ayat-Nya yang dapat disimak.
Agar seorang hamba dapat memahami maksud Allah ta'ala dan dapat meyakini
kehebatan Al Qur'an sebagai Kalamullah dan mukjizat yang tidak ada
kebathilan di dalamnya, dari depan maupun dari belakang. Sebagaimana
yang Allah ta'ala firmankan : "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al
Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah
mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya " (Q.S. An Nisaa :
82). Dan firman Allah : " Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Al
Qur'an ataukah hati mereka terkunci ? " (Q.S. Muhammad : 24) Kedua,
anjuran memikirkan keagungan ciptaan Allah, kerajaan dan kekuasaan-Nya,
serta ayat-ayat yang dapat disaksikan, agar seorang hamba dapat
merasakan keagungan al-Khaliq, dapat mengakui kebenaran Al Qur'an.
Sebagaimana yang Allah ta'ala firmankan : "Katakanlah: 'Perhatikanlah
apa yang ada di langit dan di bumi " (Q.S. Yunus : 101). Dan firman
Allah : "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan)
Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah
bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak
cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu ?"
(Q.S. Fushshilat : 53)

b. Memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah subhanahu wa ta'ala yang dapat
disaksikan dan mentadabburi ayat-ayat Allah yang dapat disimak tidaklah
dibatasi dengan keadaan atau waktu-waktu tertentu seperti yang
dibuat-buat oleh kaum sufi atau ahli kalam, dengan menggunakan istilah
renungan pemikiran dan lainnya, dalilnya adalah firman Allah subhanahu
wa ta'ala: "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau
duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah
Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka " (Q.S. Ali Imran : 191)

c. Dzat Allah tidak akan bisa terjangkau oleh akal pikiran dan tidak
akan bisa dikira-kirakan. Allah ta'ala berfirman: "Sedangkan ilmu mereka
tidak dapat meliputi ilmu-Nya " (Q.S. Thaaha : 110)
Karena Dzat Allah Mahaagung dan Mahatinggi dari kandungan pemisalan dari
qiyas. " Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat
melihat segala penglihatan itu " (Q.S. Al An'am : 103)
Dan bagi Al-Khaliq, tidak ada penyerupaan, tandingan dan juga pemisalan.
" Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia " (Q.S. Al Ikhlas :
4)
Oleh sebab itulah melalui lisan Rasul-Nya, Allah Yang Mahabijaksana
melarang berfikir tentang Dzat-Nya Yang Mahasuci.

d. Berfikir tentang Dzat Allah akan menggiring pelakunya kepada
keragu-raguan tentang Allah. Dan siapa saja yang ragu tentang Allah,
pasti binasa. Sebab ia akan dicecar oleh pertanyaan-pertanyaan
membingungkan yang lahir dari pemikiran sesat, " Allah menciptakan ini
dan itu lalu siapakah yang menciptakan Allah ? ". Pertanyaan itu pada
hakikatnya sangat kontradiktif dan kabur maksudnya. Sebab Allah adalah
Pencipta bukan makhluk !
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: " Dia tidak beranak dan tiada pula
diperanakkan " (Q.S. Al Ikhlas : 3)

e. Pengobatan untuk was-was iblis dan pemikiran-pemikiran syaitan ini,
yaitu mengikuti tata cara Al Qur'an dan As Sunnah yang dijelaskan oleh
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam :
(1) Membaca surat Al Ikhlas
(2) Meludah ke kiri sebanyak tiga kali
(3) Berlindung kepada Allah subhanahu wa ta'ala dari gangguan syaitan
yang terkutuk dengan membaca isti'adzah
(4) Mengatakan, "Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya "
(5) Memutus was-was dan menghentikan keraguannya.

f. Bimbingan Nabawi tadi merupakan cara yang paling mujarab untuk
mengobati penyakit was-was dan lebih ampuh untuk memutusnya daripada
cara jidal (perdebatan) logika yang sempit yang pada umumnya malah
membuat orang bingung. Hendaklah orang yang waras akalnya memperhatikan
benar sabda Nabi : ' Sesungguhnya hal itu dapat menghilangkannya '.
Jadi, siapa saja yang melakukannya semata-mata ikhlas karena Allah dan
ketaatan kepada Rasul-Nya, maka syaitan pasti lari.


Diringkas dari ENSIKLOPEDIA LARANGAN Jilid 1 - Pustaka Imam Asy Syafi'i
Mausuu'ah al-Manaahiyyiys Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyah
Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali Daar Ibnu 'Affan Th. 1419 H

»»  Artikel Selengkapnya...

Jawaban : “Siapa yang Menciptakan Alloh?”

Jawaban : “Siapa yang Menciptakan Alloh?”
March 24th, 2007 — Abu SHilah


jawaban :“Siapa yang Menciptakan Alloh?“

Oleh : asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani -rohimahulloh-

Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يَأْتِيهِ الشَّيْطَانُ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَكَ فَيَقُولُ اللَّهُ فَيَقُولُ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ فَإِذَا وَجَدَ ذَلِكَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقْرَأْ آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُذْهِبُ عَنْهُ

“Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang diantara kalian, lalu setan berkata : siapa yang menciptakanmu?” maka ia menjawab : “Alloh”, lalu setan bertanya : “siapa yang menciptakan Alloh?”, jika salah seorang dari kalian menjumpai yang demikian, maka ucapkanlah : (آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ) “Aku beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya”, karena yang demikian akan mengusirnya.” [Lihat ash-Shohihah (116)]

Diriwayatkan Ahmad : haddatsana adh-Dhohhak dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah rodhiyallohu anha : bahwa Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam bersabda : (lalu ia menyebutkan hadits ini).

Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يَأْتِي شَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا ؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا ؟ من خلق كذا ؟ حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ

Datang setan kepada salah seorang diantara kalian, lalu mengatakan : “Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu? Siapa yang menciptakan ini?” sampai setan mengatakan : “Siapa yang menciptakan Robb-mu?”, jika terjadi yang demikian padanya maka hendaklah ia berlindung kepada Alloh dan berhenti. [Lihat ash-Shohihah (117)]

Hadits ini memiliki jalan lain dari Abu Huroiroh dengan lafadz :

يوشك الناس يتساءلون بينهم ، حتى يقول قائلهم: هذا الله خلق الخلق ، فمن خلق الله عز وجل ؟ فإذا قالوا ذلك ، فقولوا: [ الله أحد ، الله الصمد ، لم يلد ولم يولد ، ولم يكن له كفوا أحد ] ، ثم ليتفل أحدكم عن يساره ثلاثا ، وليستعذ من الشيطان

“Hampir-hampir manusia saling bertanya-tanya diantara mereka, sampai seorang diantara mereka berkata : “Alloh menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Alloh azza wa jalla?”. Jika mereka mengatakan demikian, maka ucapkanlah : “Allohu Ahad, Allohu Shomad, lam yalid wa lam yulad, wa lam yakun lahu kufuwwan ahad”, kemudian meludahlah ke kirinya 3 kali, dan berlindunglah dari setan.” [Lihat ash-Shohihah (118)]

Hadits-hadits shohih ini telah menunjukkan bahwa wajib bagi orang yang diberi rasa was-was oleh setan dengan perkataannya : “Siapa yang menciptakan Alloh?”, agar berpaling dari perdebatannya kepada penerimaan terhadap apa-apa yang telah datang dalam hadits-hadits yang telah disebutkan, dan ringkasnya adalah agar ia mengucapkan :

آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ , الله أحد ، الله الصمد ، لم يلد ولم يولد ، ولم يكن له كفوا أحد

“Aku beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya, Alloh Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”, kemudian meludah ke kirinya 3 kali dan berlindung kepada Alloh dari setan, lalu berhenti dari meneruskan was-wasnya.

Dan aku meyakini bahwa siapa yang melakukannya dalam rangka taat kepada Alloh dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, dengan ikhlas didalam melakukannya, maka pasti was-was tadi akan lenyap darinya dan menjauhkan setannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam :

فَإِنَّ ذَلِكَ يُذْهِبُ عَنْهُ

“Karena yang demikian akan mengusirnya”.

Ta’lim (pengajaran) nabawi yang mulia ini lebih bermanfaat dan lebih memutuskan was-was yang disebabkan perdebatan akal dalam kasus ini, karena sedikit sekali manfaat perdebatan dalam kasus yang semisal ini. Dan yang sangat disayangkan, bahwa kebanyakan manusia berada pada kelalaian dari ta’lim nabawi yang mulia ini, maka perhatikanlah wahai kaum muslimin! Kenalilah sunnah Nabi kalian dan beramallah dengannya! Karena sesungguhnya didalamnya ada obat dan kemuliaan kalian.

[Diterjemahkan dari Aunul Wadud li Taysiiri ma fi as-Silsilah ash-Shohihah minal Fawa’id war Rudud. Takhrij hadits ini selengkapnya lihat di silsilah ash-Shohihah no. 116, 117 & 118]

Sumber:THOLIB.WORDPRESS.COM

»»  Artikel Selengkapnya...

Ringkasan Buku : Ruqyah Mengobati Guna Guna dan Sihir

{belajar-islam} ... Ringkasan Buku : Ruqyah Mengobati Guna Guna dan Sihir
Chandraleka
Tue, 23 Jan 2007 01:43:30 -0800

... Ringkasan Buku ...
http://buku-islam.blogspot.com



Judul asli : Ruqyah Mengobati Guna Guna dan Sihir
Penulis : Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Penerbit : Pustaka Imam Asy Syafi'i
Cetakan : II, Maret 2005 M
Halaman : xx + 78


Buku karya Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas ini membahas tentang berbagai
macam pengobatan secara Islami menurut Al Qur'an dan Sunnah yang shahih.
Lebih khusus lagi, di buku ini membahas tentang pengobatan terhadap sihir
dan juga pengobatan karena kesurupan jin.

Pada ringkasan ini saya coba kutipkan sebagiannya saja -dengan meringkas-
yaitu tentang pengobatan terhadap sihir yang ada pada halaman 9 sampai 34 di
buku tersebut. Footnote tidak saya sertakan.

[Hakikat Sihir]
------------------
Sihir menurut bahasa berarti sesuatu yang halus dan tersembunyi.
Abu Muhammad al Maqdisi berkata: "Sihir adalah jimat jimat, jampi jampi,
mantera mantera dan buhul buhul (yang ditiup) yang dapat berpengaruh pada
hati dan badan. Maka sihir dapat menyakiti, membunuh dan memisahkan suami
dengan istrinya."


Sihir adalah tipu daya syaitan melalui walinya (tukang sihir dan dukun,
paranormal, orang pintar dan lain lain).
Orang dapat terkena sihir dengan sebab lemahnya iman, kurangnya dzikrullah,
dan tidak berlindung kepada Allah. Langkah yang ditempuh dukun hanyalah
mengusir syaitan sihir dengan syaitan sihir. Ibarat mengusir maling dengan
minta bantuan perampok atau penjarah.

Sihir, guna guna dan selainnya tidak akan mengenai seseorang kecuali dengan
izin Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada
seorang pun kecuali dengan izin Allah." (Al Baqarah: 102).

Sebagian ulama Salaf berpendapat bahwa tukang sihir adalah kafir dan hukum
belajar sihir adalah haram. Para shahabat (kawan kawan) Imam Ahmad
menyatakan kafir bagi orang yang belajar dan mengajarkan sihir.
Sihir adalah dosa besar yang membinasakan seseorang, baik di dunia dan
akhirat. Tukang sihir tidak akan bahagia di mana pun berada.

Hukuman bagi tukang sihir ialah dipenggal lehernya / dibunuh.



[Macam Macam Sihir]
---------------------
- Sihir mahabbah (cinta / pelet)
- Sihir perasaan / kejiwaan, takut, berani, merasa dikejar, merasa ditemani
orang dan lain lain
- Sihir kekuatan ghaib: pandangan mata, pukulan jarak jauh, kebal, tidak
mempan dibakar, tahan sengatan, komunikasi jarak jauh (telepati) dan
lain lain
- Sihir pandangan mata: sulap
- Sihir gangguan pada bagian anggota tubuh, misalnya kaki kesemutan terus
menerus, buang air terus menerus, badan lemas, perut kembung tanpa sebab,
keluar darah terus menerus, ada juga yang gila
- Sihir penyakit dengan segala kejanggalan dan keanehan
- Sihir permusuhan dan perceraian (Al Baqarah : 102)
- Sihir ramalan, untuk meramal nasib, mencari barang hilang, dll



[Pengobatan Ilahi Terhadap Sihir]
----------------------------------
Pengobatan Ilahi terhadap sihir ini mempunyai dua bagian, yaitu

*BAGIAN PERTAMA*
Hal hal yang dipergunakan untuk mencegah datangnya sihir, yakni:
1. Mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengikhlaskan ibadah hanya
kepada Nya saja dan tidak boleh berbuat syirik.
2. Menunaikan seluruh kewajiban, meninggalkan semua larangan, serta
bertaubat dari segala macam perbuatan dosa.
3. Memperbanyak membaca Al Qur'an, yaitu dengan cara menjadikannya sebagai
wirid yang dibaca setiap hari. Diutamakan membaca surat Al Baqarah setiap
hari di rumah.
4. Melindungi dan membentengi dengan banyak memanjatkan berbagai macam do'a,
ta'awudz, serta dzikir dzikir yang disyariatkan yang sesuai dengan Sunnah
Nabi yang shahih.
5. Jika memungkinkan, hendaklah memakan tujuh buah kurma pada pagi hari. Hal
itu didasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam

"Barang siapa di pagi hari makan tujuh buah kurma 'Ajwah (kurma Nabi), maka
dia tidak akan terkena racun atau sihir." (HR. Bukhari no. 5769).


*BAGIAN KEDUA*
Pengobatan sihir yang sudah menimpa pada diri seseorang.

Cara pertama, adalah mengeluarkan sihir tersebut dan menggagalkannya jika
diketahui tempatnya dengan cara cara yang dibolehkan menurut syari'at. Dan
ini merupakan suatu hal yang paling manjur untuk pengobatan orang yang
terkena sihir.

Cara kedua, adalah menggunakan ruqyah yang sesuai dengan syari'at,
diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Menumbuk tujuh helai daun pohon sidr (daun bidara) hijau di antara dua
batu atau sejenisnya, lalu menyiramkan air ke atasnya sebanyak jumlah air
yang cukup untuk mandi dan dibacakan ke dalamnya:

"A'uudzubillahi minasy syaithaanirrajiim".
Al Baqarah: 255
Al A'raaf: 117 - 122
Yunus: 79 - 82
Thaha: 65 - 70
Al Kaafiruun: 1 - 6
Al ikhlas: 1 - 4
Al Falaq: 1 - 5
An Naas: 1 - 6

Setelah membacakan ayat ayat di atas pada air yang sudah disiapkan tersebut,
hendaklah dia meminumnya sebanyak tiga kali, dan kemudian mandi dengan
menggunakan sisa air tersebut. Dengan demikian, insya Allah penyakit (sihir)
akan hilang. Dan jika perlu, hal itu boleh diulang dua kali atau lebih,
sehingga penyakit (sihir) itu benar benar sirna. Hal itu sudah banyak
dipraktekkan, dan dengan izin Nya, Allah memberikan manfaat padanya.
Pengobatan tersebut juga sangat baik bagi suami yang tidak bisa berhubungan
badan karena terkena sihir.

2. Membaca surat Al Fatihah, ayat Kursi, dua ayat terakhir dari surat Al
Baqarah, surat al ikhlas, surat al Falaq dan surat an Naas sebanyak tiga
kali atau lebih, disertai tiupan dan sentuhan pada bagian yang terasa sakit
dengan menggunakan tangan kanan.

3. Membaca beberapa ta'awwudz, ruqyah dan doa yang mencakup:
(Doa doa selengkapnya bisa dibaca di buku tersebut halaman 25 sampai 32).

Cara ketiga, adalah mengeluarkan penyakit dengan melakukan pembekaman pada
bagian yang tampak bekas sihir, hal itu jika dimungkinkan, tetapi jika tidak
mungkin, maka cukup dengan penyembuhan cara sebelumnya. Segala puji bagi
Allah subhanahu wa ta'ala.

Cara keempat, adalah dengan obat obatan alami. Di dunia ini terdapat
beberapa obat alami yang sangat bermanfaat yang ditunjukkan oleh al Qur'an
al Karim dan as Sunnah. Jika seseorang menggunakannya dengan penuh
keyakinan, kejujuran, dan tawajjuh disertai keyakinan bahwa manfaat itu
hanya dari Allah, maka Allah akan memberikan manfaat padanya, jika Dia
menghendaki. Di sana terdapat obat yang dikombinasi dari rerumputan dan
sejenisnya, yang semuanya itu didasarkan pada pengalaman, sehingga tidak ada
larangan untuk memanfaatkannya menurut syari'at selama tidak diharamkan. Di
antara pengobatan dan penyembuhan alami yang sangat bermanfaat dengan izin
Allah adalah menggunakan madu, habbatus sawda (jintan hitam), air zam zam,
dan air hujan. Hal ini didasarkan pada firman Allah:

"Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya." (Qaaf: 9).

Juga minyak zaitun. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah:

"Makanlah oleh kalian minyak (zaitun) dan poleskanlah dengannya, karena
sesungguhnya minyak (zaitun) itu dari pohon yang diberkahi." (HR. Ahmad
III/497).

Telah terbukti melalui pengalaman, praktek langsung serta melalui
kepustakaan, bahwa ia merupakan minyak yang paling bagus.

Dan di antara obat alami lainnya adalah; mandi, membersihkan diri, dan
memakai wangi wangian.



[PERSONAL VIEW]
---------------
Di masyarakat kita ini fenomena tentang sihir telah merajalela. Bahkan
dengan menggunakan istilah istilah yang terkesan indah, seperti magic,
tenaga prana, energi aura, dll.

Buku ini perlu dibaca oleh kaum muslimin agar kita mengetahui cara cara
untuk menghindari diri dari sihir. Dan juga agar kita mengetahui bagaimana
cara mengobati sihir yang sudah menimpa seseorang sesuai dengan Al Qur'an
dan Sunnah Nabi shallallahu'alaihi wa sallam.

Salah satu cara yang dapat mencegah terkena sihir sebagaimana dijelaskan
dalam buku ini adalah dengan mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dengan
demikian, agar kita bisa mentauhidkan Allah dengan benar, maka mau tidak mau
kita harus belajar cara mentauhidkan Allah. Inilah pentingnya mempelajari
ilmu agama.




Ringkasan buku ini dibuat oleh Chandraleka
di Depok, 22 Januari 2007
Sumber : http://bestabuabdullah.blogspot.com

»»  Artikel Selengkapnya...